Ini adalah pengalamanku waktu MTS (sekolah setara SMP), mungkin buat sebagian orang kisahku ini biasa saja,tetapi enggak buatku. Oke, aku mulai saja ceritanya. Hari itu adalah hari yang seharusnya membahagiakan buatku karena hari terakhirku menjadi murid MTs. Teman-teman dan guru-guruku terlihat bahagia karena 100% siswa di sekolahku dinyatakan lulus. Tibalah saatnya hari wisuda sekaligus perpisahan dengan teman-teman dan guru-guru. Semua begitu bersemangat selama acara apalagi adik-adik kelas menyuguhkan pertunjukkan terbaik mereka. Ohiya, orang tua siswa juga diundang dalam acara itu. Hampir semua orang tua teman-temanku udah datang bahkan mereka sempat mengobrol atau foto bareng sebelum acara dimulai. Aku mencari keberadaan ibu/bapakku tapi nggak ketemu.
"Mereka pasti telat,"begitu pikirku mencoba menghibur diri, walau pagi sebelum berangkat orang tuaku bilang nggak bisa dateng karena sedang ada pekerjaan. Hari itu bertepatan dengan panen padi jadi orang tuaku akan sangat sibuk di sawah.
Aku masih berharap orang tuaku datang, walaupun telat atau cuma sebentar saja. Itu harapanku saat acara wisuda MTs, tetapi Tuhan punya kehendak lain. Aku tidak melihat orang tuaku saat acara dimulai. Aku berusaha memfokuskan diri selama acara. Tibalah saatnya acara penghargaan untuk siswa berprestasi satu sekolah. Aku dan beberapa teman sekelasku termasuk ke dalam nama-nama siswa berprestasi itu. Aku senang bisa menunjukkan prestasiku di depan semua orang, kecuali orang tuaku. Aku senang sekaligus sedih ditambah lagi orang tua siswa yang berprestasi juga diminta untuk maju ke panggung untuk menerima penghargaan sekaligus berfoto bersama.
"Aku harus bagaimana? Orang tuaku bahkan tidak datang," pikirku waktu itu.
Sungguh, pikiranku kacau saat itu, apakah aku satu-satunya yang tidak ditemani orang tuaku? satu persatu aku melihat orang tua siswa lain maju. Sementara aku berdiri di panggung dengan kebingungan. Lalu aku melihat kakakku yang ternyata datang terlambat naik ke atas panggung. Aku tahu kalau kakakku terlihat enggan untuk naik ke atas panggung.
Aku sedikit lega kakakku datang, tetapi aku ingin orang tuaku yang datang dan menerima penghargaan itu. Aku ingin melihat wajah senang dan bangga mereka ketika melihat anaknya berprestasi. Jujur, aku iri melihat orang tua siswa lain yang terlihat bangga dengan anak-anaknya.
Apakah aku sedih? Ya, aku sedih karena orang tuaku tidak datang di momen penting dalam hidupku dan tidak menemaniku menerima penghargaan itu.
Apa aku senang? Ya, aku senang menerima prestasi yang membanggakan di antara ratusan teman-temanku. Aku juga senang kakakku datang walau terlambat dan pake baju kayak mau jalan-jalan (guruku aja sampai nggak yakin kalau dia kakakku karena penampilannya itu)
Hari yang seharusnya bahagia itu terasa kurang lengkap tanpa kehadiran orang tuaku.
Selesai acarapun aku langsung pulang sambil memandang iri teman-teman yang sedang berfoto dengan orang tuanya sambil memakai baju toga. Aku berharap kakakku juga mengajak berfoto tetapi dia diam sambil terus berjalan menuju parkiran. Sampai di rumah pun aku tak bisa langsung memberitahukan orang tuaku tentang prestasi yang kuraih. Mereka sedang berada di sawah. Aku sedih, hari bahagia itu akhirnya menjadi seperti ini, tetapi aku mengerti orang tuaku memilih bekerja di hari wisudaku untuk masa depanku nantinya. Kalau disuruh memilih, tentu saja aku akan memilih untuk orang tuaku datang. Kalau disuruh kembali ke masa lalu, aku ingin masa laluku seperti itu saja. Aku tidak ingin mengubah apapun, tidak apa orang tuaku tidak datang waktu wisudaku karena aku juga harus merasakan rasanya sedih di saat hari pentingku. Itu sebuah pembelajaran bagiku bahwa ridak selamanya kehidupan yang kita jalani bahagia ataupun sedih. Ada juga saat ambigu seperti yang aku alami, Aku bahagia tapi sekaligus sedih (lebih banyak sedihnya dih T,T).

2 komentar:
Gak apa.. yang penting bisa bikin bangga orang tua. :)
terima kasih kak :)
Posting Komentar