Diikutkan Dalam Lomba Cerpen ‘Angels of Morning Star Club- "My New Angel is You"

 Diikutkan Dalam Lomba Cerpen ‘Angels of Morning Star Club 
"My New Angel is You"
          




Pemuda itu selalu berdiri di gang sempit tempatku bekerja sambil menghisap rokok. Sesekali dia menatap ke dalam toko seolah ingin tahu aku masih di dalam atau tidak. Aku ingat dengan betul, dia mulai berdiri di gang sempit itu semenjak sebulan yang lalu. Aku tidak tahu apa maksudnya berdiri di sana tetapi yang pasti dia tidak bermaksud jahat. Pemuda itu seolah sedang melindungiku.
            “Bos, aku pulang dulu ya.” ucapku pada pemilik toko sambil mengenakan jaket lalu keluar dari toko. Seperti biasa pemuda itu masih berdiri di sana. Dinginnya malam mampu menembus jaket tebalku. Setiap hari aku bekerja mulai jam 8 pagi sampai 10 malam, setiap hari aku harus berjalan kaki untuk sampai ke rumah selain untuk menghemat, alasan lain karena jarak rumahku dengan tempat bekerjaku tidak terlalu jauh. Tetap saja perjalanan pulang saat malam hari terasa menyeramkan apalagi aku harus melewati gang-gang sempit perumahan sederhana di pingkir kota.
            “Rina, mampir dulu.” Panggil seorang nenek penjual wedang jahe di dekat rumahku. Aku mampir untuk menghormati ajakan si nenek. Seperti biasa nenek memberikanku wedang jahe yang mampu menghangatkan tubuhku.
            “Kamu pulang lebih malam hari ini. Pemuda itu masih mengikutimu ya?”tanya si nenek yang refleks membuatku menoleh ke gang sempit yang barusan kulewati. Sebuah bayangan hitam nampak sedang bersandar di kegelapan malam.
            “Dia pemuda yang baik, kamu tak perlu takut,” ucap si nenek seolah mengerti kekhawatiranku.
            “Apakah ayahmu sudah sehat?” tanya si nenek lagi.
            “Ayah sudah baikan, Nek.”
            “Maaf nenek belum bisa menjenguk di rumah sakit.”
            Suasana kembali hening karena aku sibuk makan ubi rebus yang dihidangkan oleh nenek. Kondisi keuanganku mulai memburuk semenjak ayah tiba-tiba saja terkena penyakit yang aneh enam bulan yang lalu. Aku dan adik lelakiku memutuskan cuti kuliah untuk bekerja  membiayai pengobatan ayah dan kehidupan sehari-hari kami. Ibu fokus merawat ayah di rumah sakit, sudah enam bulan lamanya ayah di rawat di sana. Minggu depan rencananya ayah akan keluar dari rumah sakit karena kesehatannya mulai stabil tetapi ayah masih belum bisa bekerja.
            Ayah adalah malaikat penjagaku yang selalu ada saat aku membutuhkan, yang selalu menghiburku ketika aku terjatuh. Ayah adalah sosok malaikat penjaga yang sesungguhnya, walau kini tidak seperti dulu, terlihat sekali ayah masih selalu ingin menjagaku. Ibuku adalah malaikat penyabar yang selalu menjadi pendengar setiaku, beliau yang mengajariku arti kesabaran dan ketulusan. Setiap aku ada masalah beliaulah yang menjadi sumber keluh kesahku dan saran-saran beliau selalu menenangkan. Adik lelakiku adalah sosok lelaki usil yang selalu menjahili kakaknya sekaligus melindungi kakaknya. Dibalik sikap jahil dan usilnya, dialah bodyguard yang akan berdiri di depan saat ada yang mencoba mengangguku. Ayah, ibu, dan adikku adalah sosok malaikat yang nyata dalam kehidupanku. Kebersamaan kami adalah hal yang paling kurindukan saat ini.
            Aku menghentikan lamunanku tentang keluargaku dan melanjutkan perjalanan pulangku. Nenek kembali menolak uang bayaran dariku, dia sungguh orang yang baik hati dibalik kekurangannya. Aku tahu dengan pasti nenek itu juga memiliki kondisi keuangan yang tidak sebagus keluargaku saat ini, tetapi dia masih sempat memberikan bantuan sekecil apapun. Nenek adalah sosok malaikat pengasih dan dermawan dalam keterbatasannya.  Aku belajar menjadi orang yang dermawan darinya.
            Aku terus melangkahkan kakiku menuju rumah sambil bersenandung ringan. Hatiku sangat gembira membayangkan kebersamaan keluargaku minggu depan. Tetapi sebuah tangan kekar menarikku ke sudut gang yang lebih sempit. Membuyarkan lamunan bahagiaku dan menghantarkan ketakutan padaku. Tiga sosok pria tak dikenal menodongkan pisau di depan wajahku. Aku sangat ketakutan.
            “Hei lepaskan dia sekarang juga!”ucap seseorang dengan suara keras. Ketiga pria di depanku berbisik-bisik, lalu lari menghinadri lelaki yang barusan bicara. Tadi aku sempat mendengar ketiga pria tadi mengatakan bahaya sambil menunjuk lelaki yang kini sudah ada di depanku. Tamatlah aku, orang yang lebih berbahaya kini sudah berdiri di depanku.
            “Kamu tidak apa-apa? Lain kali jangan pulang selarut ini.” Suara yang terdengar menyejukkan. Aku memberanikan diri menatap wajah lelaki di depanku. Bukankah ini pemuda yang biasa berdiri di  depan tempatku bekerja? Jadi dia benar-benar mengikutiku? Kenapa?
            Banyak pertanyaan memenuhi otakku sampai tak sadar lelaki itu, eh pemuda itu sudah menarik tanganku, dia sepertinya ingin mengantarkanku pulang. Aku terdiam selama perjalanan pulang dan tidak berusaha memberontak. Entah kenapa aku merasa terlindungi bersama pemuda ini. Kelihatannya pemuda ini seumuran denganku.
            “Sudah sampai. Besok jangan pulang larut malam lagi.”
            “Kamu siapa?” hanya pertanyaan itu yang keluar dari mulutku. Bodohnya aku, harusnya aku mengucapkan terima kasih padanya.
            “Aku hanya ingin melindungimu.”
            “Kenapa?”
            “Kamu terlalu banyak bertanya. Aku sangat ingin melindungimu.” Dia tertawa sambil mengucapkannya.
            Aku tak mengerti maksudnya.
            “Kamu sepertinya sudah memiliki banyak malaikat di dekatmu tetapi ada satu yang kurang.”
            “Malaikat hatimu.” Pemuda itu tersenyum sambil mendekatkan wajahnya ke wajahku dan sukses membuatku gugup.
            “Sampai jumpa besok.”

            Aku memandang punggungnya yang mulai menjauh, “Malaikat Hatiku” aku suka istilah itu. Sekarang bertambahlah malaikat baru dalam hidupku, malaikat aneh yang sosoknya misterius.

0 komentar:

Posting Komentar

 
;